ARTIKEL
Berikut tokoh aliran idealisme:
-plato. berpendapat bahwa sesuatu itu dapat dipikirkan oleh akal dan yang berkaitan dengan ide atau gagasan. Mengenai kebenaran tertinggi dengan doktrin yang dikenal dengan istilah ide, plato berpendapat bahwa dunia ini tetap, dan jenisnya hanya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Aliran ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklarifikasikan, dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
-Al-Ghazali. Dia merupakan tokoh tokoh sentral dikalangan muslim, bahkan ia diberi gelar hujatul Islam. Ia berasal dari kota khurasan. Dan diantara karya-karyanya yang berjudul idea Ulumuddin dan tafi Al falasyifa. Pada buku yang ke 2 inilah Al-Ghazali menolak 20 pendapat filosofi muslim tentang berbagai pendapat atau perdebatan
-David Hume, menurut David pengetahuan bersumber dari pengalaman yang diterima oleh panca indra, sehingga hal itu mendorong kita bahwa untuk menemukan suatu pengetahuan melalui pengalaman.
-Fichte. memakai nama idealisme subyektif, jadi pandangan-pandangan berasal dari subyek-subyek tertentu, dia menyandarkan keunggulan moral untuk sebuah etika manusia yang ideal. Dia diduga sebagai pendiri idealisme di Jerman.
-Hegel. mengangkat idealisme subyektif dan obyektif untuk menggambarkan tesis dan antitesis secara berturut-turut. Hegel sendiri mengemukakan pandangannya sendiri yang disebut idealisme absolut sebagai sintesis yang lebih tinggi dibanding unsur yang membentuknya (tesis dan antitesis).
-Kant. menyebut pandangannya dengan istilah idealisme transendental atau idealisme kritis. Dalam alternatif ini isi pengalaman langsung tidak dianggap sebagai benda dalam dirinya sendiri, dan ruang dan waktu merupakan forma intuisi kita sendiri. Schelling telah menggunakan istilah idealisme transendental sebagai pengganti idealisme subyektif.
EGOIS
Menurut Kamus besar bahasa indonesia :
egois/ego·is/ /égois/ n 1 Psi orang yang selalu mementingkan diri sendiri; 2 Fil penganut teori egoisme;
Sedangakan menurut para ahli ada begitu banyak ragam pengertian, diantaranya :
Ciri-ciri orang egois yang paling kentara, yaitu mengutamakan kepentingan sendiri ketimbang kepentingan orang lain, sulit menerima saran sepanjang tidak menguntungkan dirinya, tidak kooperatif, mau menang sendiri, rasa toleransi kecil, kurang memiliki empati, perhitungan, kurang pengertian, keras kepala.
Dalam psikologi perkembangan, terbentuknya kepribadian seseorang pada umur 0-5 tahun. Pada usia ini anak memiliki karakter egosentris.
Menurut psikolog Michele Borba (penulis buku-buku parenting) asal Amerika, orang yang egois biasanya tidak mau menjadi bagian dari sekitarnya. Ia selalu berusaha agar segala sesuatu sesuai keinginannya tanpa memedulikan perasaan orang lain.
Jadi, penyebab egoisme pada awalnya bisa jadi terlalu dimanja, perhatian yang diberikan sangat berlebihan.
Jenis - jenis egoisme
Ada dua jenis egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis yaitu individu secara psikologis selalu mengambil tindakan yang menguntungkan dirinya sendiri.
Namun, makna egoisme psikologis ini masih bercabang antara egoisme yang mendahulukan kepentingan diri sendiri dan egoisme yang berguna untuk diri sendiri.
Menurut pendiri aliran psikoanalisis, Sigmund Freud (1856-1939), manusia memiliki tiga struktur kepribadian, yaitu id (es), ego (ich), dan superego (uber ich).
Id adalah keinginan manusia seperti makan minum dan seks. Sebuah keinginan yang mengarah pada pemenuhan keinginan daging. Keinginan ini memang selalu ada selama manusia hidup dalam tubuh yang fana ini. Id menuntut kepuasan.
Ego adalah diri kita sendiri ini yang lebih mengarah kepada pikiran, perasaan, kemauan, yang seluruhnya berputar pada diri sendiri setiap saat. Faktor ego yang memutuskan apakah mau mengikuti keinginan id atau menolaknya.
Lain halnya dengan superego, yang sifatnya sebagai penjaga moral. Selalu mengingatkan ego apabila akan memenuhi keinginan id. Jadi, superego bertentangan dengan id. Id selalu ingin dipuaskan, sedangkan superego selalu memberi warning.
Jadi, seseorang yang lebih mementingkan id dalam hidupnya, maka orang ini dinilai egois. Raymond Corsini dalam buku Psikologi Dewasa Ini (2003) mengatakan bahwa ego itu terlalu lemah terhadap id. Id menggebu, sedangkan ego mudah tergiring, menggiring pada gairah buta (blind passion) dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan rasional dengan konsekuensi yang begitu besar.
@agungrosidi

Komentar
Posting Komentar