ARTIKEL

IDEALIS atau EGOIS ?
IDEALIS

Mungkin kita sering mendengar sebuah ucapan "Idealis dan egois" dalam ruang lingkup hidup kita sehari - hari, dan memang kita sebagai manusia tidak akan luput dari kedua sipat tersebut. Hanya tergantung kita bisa memanfaatkan dengan baik atau tidak adanya sipat itu dalam jati diri kita dan dapat memanfaatkan salah satu dari sipat itu atau keduanya sekaligus dalam waktu bersamaan dengan cukup baik.

Dalam Kamus besar bahasa indonesia, idelaisme di artikan :
idealisme/ide·al·is·me/ /idéalisme/ n 1 aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; 2 hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; 3 Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

Dan begitu banyak arti menurut para pakar [ahli]/ filsafat, di antaranya :

Menurut idealisme, bila seorang belajar pada tahap awal berarti ia memahami “aku”–nya sendiri, lantas bergerak keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikro kosmos menuju makro-kosmos. Ini seperti juga yang dijelaskan oleh Kant (1942-1804), bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia lewat indera memerlukan unsur a priori yang tidak diketahui oleh pengalaman terlebih dahulu.

Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Realitas sendiri dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, budi, diri, pikiran mutlak, bukan berkenaan dengan mateIdealisme merupakan suatu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan kebenaran yang paling tinggi adalah ide dari diri sendiri bukan dari orang lain. Jadi, dalam konteks pendidikan ini Islam menceritakan pemikiran atau ide tertinggi.

Berikut tokoh aliran idealisme:


-plato. berpendapat bahwa sesuatu itu dapat dipikirkan oleh akal dan yang berkaitan dengan ide atau gagasan. Mengenai kebenaran tertinggi dengan doktrin yang dikenal dengan istilah ide, plato berpendapat bahwa dunia ini tetap, dan jenisnya hanya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Aliran ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklarifikasikan, dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.  


-Al-Ghazali. Dia merupakan tokoh tokoh sentral dikalangan muslim, bahkan ia diberi gelar hujatul Islam. Ia berasal dari kota khurasan. Dan diantara karya-karyanya yang berjudul idea Ulumuddin dan tafi Al falasyifa. Pada buku yang ke 2 inilah Al-Ghazali menolak 20 pendapat filosofi muslim tentang berbagai pendapat atau perdebatan


-David Hume, menurut David pengetahuan bersumber dari pengalaman yang diterima oleh panca indra, sehingga hal itu mendorong kita bahwa untuk menemukan suatu pengetahuan melalui pengalaman.


-Fichte. memakai nama idealisme subyektif, jadi pandangan-pandangan berasal dari subyek-subyek tertentu, dia menyandarkan keunggulan moral untuk sebuah etika manusia yang ideal. Dia diduga sebagai pendiri idealisme di Jerman.


-Hegel. mengangkat idealisme subyektif dan obyektif untuk menggambarkan tesis dan antitesis secara berturut-turut. Hegel sendiri mengemukakan pandangannya sendiri yang disebut idealisme absolut sebagai sintesis yang lebih tinggi dibanding unsur yang membentuknya (tesis dan antitesis).


-Kant. menyebut pandangannya dengan istilah idealisme transendental atau idealisme kritis. Dalam alternatif ini isi pengalaman langsung tidak dianggap sebagai benda dalam dirinya sendiri, dan ruang dan waktu merupakan forma intuisi kita sendiri. Schelling telah menggunakan istilah idealisme transendental sebagai pengganti idealisme subyektif.


EGOIS

Menurut Kamus besar bahasa indonesia :

egois/ego·is/ /égois/ n 1 Psi orang yang selalu mementingkan diri sendiri; 2 Fil penganut teori egoisme;

Sedangakan menurut para ahli ada begitu banyak ragam pengertian, diantaranya :

Egoisme merupakan kata bentukan dari kata latin ego yang berarti “aku”, “saya”. Egoisme adalah sikap yang berpusat pada diri, mementingkan diri sendiri, dan mencari kepentingan diri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, bahkan cenderung meniadakannya (Mangunhardjana, 1997: 58).  

Willis (2009: 15) menjelaskan yang lebih berbahaya lagi adalah sifat egosentrisme. Sikap egosentrisme suami dan isteri merupakan penyebab terjadinya konflik rumah tangga yang dapat berujung pada pertengkaran yang terus menerus. Egosentrisme adalah sifat yang menjadikan diri seseorang sebagai pusat perhatian yang diusahakan olehnya dengan segala cara. Pada orang yang seperti ini, orang lain tidaklah penting. Dia mementingkan dirinya sendiri, dan bagaimana menarik perhatian pihak lain agar mengikutinya, minimal memperhatikannya.

Egoisme berasal dari kata ego, yang artinya persepsi individu tentang dirinya sendiri yang berpengaruh pada tindakannya. Jadi, ego merupakan pusat kesadaran, proses alami individu, yang merupakan gabungan antara pemikiran, gagasan, perasaan, memori, dan persepsi sensoris (Raymond Corsini, Psikoterapi Dewasa Ini, 2003).

Alex Sobur, dalam buku Psikologi Umum (2016), menulis bahwa prasangka selalu mengandung semacam kecenderungan dasar yang kurang menguntungkan orang atau kelompok tertentu.

Dengan demikian, prasangka yang buruk akan mengacaukan pola komunikasi yang baik, yang semula biasa-biasa saja akhirnya timbul perasaan tidak senang dan malas berkomunikasi dengan orang macam itu. Dalam ilmu komunikasi, hal ini disebut gagal komunikasi atau komunikasi tidak efektif.

Ciri-ciri orang egois yang paling kentara, yaitu mengutamakan kepentingan sendiri ketimbang kepentingan orang lain, sulit menerima saran sepanjang tidak menguntungkan dirinya, tidak kooperatif, mau menang sendiri, rasa toleransi kecil, kurang memiliki empati, perhitungan, kurang pengertian, keras kepala.

Dalam psikologi perkembangan, terbentuknya kepribadian seseorang pada umur 0-5 tahun. Pada usia ini anak memiliki karakter egosentris.

Menurut psikolog Michele Borba (penulis buku-buku parenting) asal Amerika, orang yang egois biasanya tidak mau menjadi bagian dari sekitarnya. Ia selalu berusaha agar segala sesuatu sesuai keinginannya tanpa memedulikan perasaan orang lain.

Jadi, penyebab egoisme pada awalnya bisa jadi terlalu dimanja, perhatian yang diberikan sangat berlebihan.

Jenis - jenis egoisme

Ada dua jenis egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis yaitu individu secara psikologis selalu mengambil tindakan yang menguntungkan dirinya sendiri.

Namun, makna egoisme psikologis ini masih bercabang antara egoisme yang mendahulukan kepentingan diri sendiri dan egoisme yang berguna untuk diri sendiri.

Menurut pendiri aliran psikoanalisis, Sigmund Freud  (1856-1939), manusia memiliki tiga struktur kepribadian, yaitu id (es)ego (ich), dan superego (uber ich).

Id adalah keinginan manusia seperti makan minum dan seks. Sebuah keinginan yang mengarah pada pemenuhan keinginan daging. Keinginan ini memang selalu ada selama manusia hidup dalam tubuh yang fana ini. Id menuntut kepuasan.

Ego adalah diri kita sendiri ini yang lebih mengarah kepada pikiran, perasaan, kemauan, yang seluruhnya berputar pada diri sendiri setiap saat. Faktor ego yang memutuskan apakah mau mengikuti keinginan id atau menolaknya.

Lain halnya dengan superego, yang sifatnya sebagai penjaga moral. Selalu mengingatkan ego apabila akan memenuhi keinginan id. Jadi, superego bertentangan dengan id. Id selalu ingin dipuaskan, sedangkan superego selalu memberi warning.

Jadi, seseorang yang lebih mementingkan id dalam hidupnya, maka orang ini dinilai egois. Raymond Corsini dalam buku Psikologi Dewasa Ini (2003) mengatakan bahwa ego itu terlalu lemah terhadap id. Id menggebu, sedangkan ego mudah tergiring, menggiring pada gairah buta (blind passion) dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan rasional dengan konsekuensi yang begitu besar.


@agungrosidi

Komentar

Postingan Populer